Phobia Sekolah




TUGAS INDIVIDU
MATA KULIAH BIMBINGAN KONSELING










 











NAMA                 :           WAHYU BUDI SETYAWAN
NIM                     :           X7109119
SEMESTER       :           VI C



PROGRAM STUDI SI TRANSFER PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010


PHOBIA SEKOLAH


A.      IDENTITAS
Nama                                :           Fajar Hafid Hananto
Kelas                                :           1
Tempat Tanggal Lahir      :           Karanganyar, 12 Maret 2003
Agama                              :           Islam
Jumlah Saudara                :           3
Anak ke                            :           1
Pekerjaan orangtua
Ayah                                :           Wiraswasta
Ibu                                    :           Wiraswasta
Alamat                             :           Karanganyar

B.     PERMASALAHAN
Anak tersebut tiba-tiba tidak mau sekolah. Padahal sebelumnya, anak-anaknya tidak demikian. Pertama kali dia sangat antusias untuk pergi ke sekolah. Beberapa bulan sebelum hari pertama masuk sekolah, orang tua pun sudah mempersiapkan anak- anak agar siap masuk sekolah dengan cara membicarakannya atau mengajaknya melihat sekolah yang ingin dimasukinya. Sekarang tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba saja dia tidak mau pergi sekolah. Bahkan orang tua hanya bisa pasrah dan bahkan menyerah. Mereka tidak berani memaksakan anak masuk sekolah karena takut anaknya semakin stress.
Bila ini berlanjut tentunya akan membuat masa depannya suram. Lalu Bagaimana menangani anak yang tidak mau sekolah dengan bijaksana agar tidak menggangu perkembagan mental anak.

C.      DIAGNOSIS ( PENYEBAB MASALAH )
Memperhatikan masalah tersebut, maka penulis berpe
ndapat bahwa kemungkinan besar Hafid mogok sekolah dikarenakan sedang mengalami gangguan psikologis yang disebut dengan fobia sekolah. Kata “ fobia ” menurut Baker Encyclopedia of Psychology and Couseling adalah suatu gangguan, yaitu gangguan ketakutan yang tidak rasional atau irrational fear dari objek- objek atau situasi-situasi yang tidak berbahaya. Secara singkat Ivan Ward dalam buku yang berjudul Phobia mendefinisikan bahwa fobia adalah sebagai ketakutan yang tidak masuk akal.
Jadi fobia sekolah adalah bentuk ketakutan yang tidak masuk akal terhadap sekolah. Gangguan ini biasanya muncul ketika “ jam berangakat sekolah ” tiba dan itu biasanya ditandai dengan perilaku menolak masuk sekolah. Dalam keadaan terpaksa, ia mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian akan menangis dan minta pulang.
Walupun berlangsungnya fobia sekolah sangat tergantung pada penanganan dapat menyebabkan fobia anak terhadap sekolah akan semakin parah.
Berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab anak tersebut fobia sekolah:
1.      Pola hubungan orang tua dan anak yang tidak sehat.
Hafid diperlakukan orantuanya agak kurang karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya sendiri dan kurang memperhatikan Hafid. Jadi orangtua terlalu permisif  dalam mengasuhnya anak tidak dikenalkan akan kekuatan dan keterbatasan diri sendiri. Akibatnya perkembangan kepribadiannya menjadi tidak sehat. Dia menjadi rendah diri, kuarang percaya diri, tidak bisa bergaul dengan temannya, manja, semaunya sendiri, mau menang sendiri. Maka sedikit saja konflik dengan guru atau teman di hari pertamanya membuat dia merasa tidak nyaman, sehingga dia menangis dan minta pulang.
2.      Sistem keluarga yang sering bertengkar
Ternyata kedua orangtua Hafid sering bertengkar sehingga dia merasa terganggu dan dia lebih mudah mengalami kecemasan ketika berjauhan dengan orangtuanya khususnya ketika dia sedang berada di sekolah. Dia diliputi rasa kekawatiran jangan-jangan nanti tidak bisa bertemu lagi dengan orangtuannya.


D.    PROGNOSIS ( PENANGANAN )
Masalah Hafid bukanlah kelainan yang menetap. Dengan penanganan yang teratur dan bijaksana masalah fobiannya dapat disembuhkan.
1.      Mengharuskan Hafid tetap sekolah.
2.      Membuka komunikasi dengan teman sekelasnya dan memperhatikan keluhan-keluhannya.
3.      Memberi reward atas perkembangannya.

E.     TREATMEN ( PELAKSANAAN BANTUAN ­­)
1.      Mengharuskan Hafid tetap bersekolah
Para psikolog berpendapat bahwa manusia membutuhkan “kodisi terpaksa” untuk mengalahkan rasa takutnya. Jadi perlu peran serta orangtua untuk mau mengantarkan anak bahkan menemani. Lalu bila sudah berlanjut beberapa hari mulai hanya antar jemput. Kemudian bila  telah berkembang bisa ditinggalkan.
2.      Membuka komunikasi dengan teman sekelasnya dan memperhatikan keluhan-keluhannya.
Menyuruh teman sekelas untuk mau mengajak berkomunikasi dengan hafid. Lalu di suruh bekerja kelompok karena dengan sendirinya akan membuka komunikasi untuk bertukar pikiran menyelesaikan masalah yang dipelajari sehingga dia merasa nyaman di kelas dan pergaulannya dengan teman sekelas akan lebih dekat.
3.      Memberi reward atas perkembangannya.
Setiap tahap perkembangannya termasuk kedua poin diatas bila menunjukkan perkembangan positif langsung diberi reward bisa lisan maupun simbolis.

F.     TINDAK LANJUT
Setelah hal itu berkembang guru berusaha terus menjalin komunikasi dengan orangtua Hafid sehingga guru tahu akan psikologi Hafid yang dibawa disekolah dan guru pun menyesuaikan dengan kondisinya.

G.    KENDALA / KESULITAN DALAM PENANGANAN MASALAH
Kendala yang dihadapi adalah sulitnya orangtua untuk diajak berkomunikasi, padahal peran serta orangtua menjadi modal utama bagi penyembuhan anak tersebut. Paling tidak hanya untuk berkomunikasi saja agar guru tahu tahu apa yang terjadi di lingkungan rumahnnya sehingga bisa menyesuaikan perlakuan yang seharusnya diberi kepada Hafid.
Bila hal tersebut bisa terpenuhi otomatis secara perlahan-lahan masalah Hafid dapat terselesaikan dan akhirnya membuat dia bisa belajar sewajarnya anak yang lain.